Sungai Kenangan - xxx cerita - xxx kagem tiyang sepuh - File Catalog - nodunk000.ucoz.org
  Saturday, 2016-12-10, 2:09 AM


Main
Registration
Login
NODUNK ZONE...!!!! Welcome Guest | RSS  
ykrdy
main dunk

Categories dunk
xxx dewasa bokep [16]
xxx dewasa photo [5]
xxx cerita [23]
xxx phooto seksi [no bugil] [3]
foto artis [4]

Search

pasang aja diweb/blog kamu,gratis!!

nodunk000.ucoz.org

Main » Files » xxx kagem tiyang sepuh » xxx cerita

Sungai Kenangan
[ ] 2009-08-03, 1:56 AM
Sungai Kenangan

Ini adalah kisahku pada waktu aku masih SMP kelas tiga di kota
kembang, waktu itu aku ada liburan di rumah kakekku di daerah lembang,
disana tinggal kakek dan keluarga bibi ku. Bibiku adalah kasir sebuah
bank karena menikah dengan pamanku yang satu kantor dia mengundurkan
diri dan hanya sebagai ibu rumah tangga, orangnya ayu, putih berlesung
pipit dengan usia sekitar 27 tahunan. Dia tinggal dirumah kakekku
karena rumahnya sedang dibangun di daerah bogor sedang suaminya (adik
ayahku) tinggal di kost dan pulang seminggu sekali.

Aku dan bibiku sangat akrab karena dia memang sering main kerumahku
sewaktu belum berkeluarga dan waktu kecil sering tidur di kamarku
bahkan waktu kuliah dia lebih banyak tidur dirumahku dari pada
ditempat kostnya. Anaknya masih kecil berumur sekitar 1 tahun.

Suatu pagi aku kaget ketika seseorang membangunkanku dengan membawa
segelas teh hangat, "Bangun…. Males amat kamu disini biasanya kan
sudah nyiramin taneman sama nyuci mobil"

"Males ah, liburan masak suruh kerja juga…."
"Lha masak kakekmu yang sudah tua itu suruh nyiramin bunga sendiri dan
mobilku siapa yang nyuci…"
"Kan ada bi ijah "
"Bi ijah lagi sakit dia gak sempet…, bangun bangun ah males ya"
dicubitnya pinggangku
"Udah udah geli ampun…." Kataku bangun sambil mendorong mukanya.

Kakekku pulang dari jalan paginya dan asik berbincang dengan temannya
diruang tamu. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi baru membuka baju
bibiku mengetuk pintu "Rik mandinya di sungai sekalian temenin aku
nyuci, lagi mati lampu nih….. andi biar di jaga kakek"

"Ya siap boss…" ku buka pintu dan membawa cucian seember besar ke
belakang rumah, bibiku mengikutiku sambil membawa handuk, pakaian
ganti dan sabun cuci. Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke
sungai di pinggir kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk
yang mandi atau mencuci tapi sekarang sudah jarang yang memakai, hanya
sesekali mereka mandi disungai.

"Sana di belakang batu itu aja, tempatnya adem enak…" dibelakang batu
itu terdapat aliran kecil dan batu batu pipih disekelilingnya
tumbuh-tumbuhan lebat itu kami bermaksud mencuci..ternyata sudah ada
seorang wanita muda yang sedang mandi mengenakan kain batik ternyata
wulan tetangga sebelah rumahku

"eh rik tumben mau ke sungai…." Katanya ramah
"Ya nih di paksa bos… "
"Wah kalah duluan nih, nyuci juga kamu wul "
"Aku dah dari tadi.. kalo listrik mati gini baru pada ke kali, kalo
gak pakaian bayiku siapa kapan keringnya"
katanya sambil keluar dari sungai dan mengambil handuk di tepi sungai.

Selendang batik itu membentuk lekuk tubuhnya dibagian depan terlihat
dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah
leher putihya terdapat sebuah kalung tipis yang membuat dirinya
terlihat ramping, ia kemudian membelakangi kami dan melepas selendang
itu kemudian mengusapkan handuk ke sekujur tubuhnya.

Kontan saja aku kaget melihat pemandangan itu, walaupun membelakangiku
tapi aku dengan jelas dapat melihat seluruh tubuh putihnya itu tanpa
sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas setelah dia
mengusap tubuhnya kini ia mulai membasuh rambutnya yang panjang
sehingga seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian
kemudian duduk

"Kapan kamu kesini rik.."sambil memiringkan tubuhnya karuan saja tetek
gedhenya terlihat, aku kaget dengan pertanyaannya.

"Apa wul aku lagi gak konsen.." ia memalingkan badan kearahku
"Ati-ati disungai jangan ngelamun, kamu kapan datang.."
"Oh aku baru kemarin.." kataku sambil mencelupkan baju-baju ke air
sedang mataku tentu saja mengarah ke kedua teteknya yang tanpa sengaja
diperlihatkan, .

Bibiku bergerak menjauhi kami, mencari tempat untuk buang air karena
dari tadi dia kebelet beol.
"Anakmu umur berapa teh.. kok gak diajak " kataku
"Masih 1 tahun setengah, tadi sama adikku jadi aku tinggal nyuci"
setelah rambutnya agak kering ia kemudian memasang
handuknya dipinggangnya dan membalikkan tubuhnya tangan kanannya
menutupi mencoba menutupi teteknya yang berukuran wah itu walaupun
akhirnya yang tertutupi cuma kedua putingnya sedang tangan kirinya
mencari celana dalam di atas batu itu setelah menemukannya, dia
kemudian membalikkan badannya dan menaikkan handuknya, celana dalam
berwarna putih itu terlihat cukup tipis dan seksi di
pinggir-pinggirnya ada bordir kecil bermotif bunga.

"Anakmu siapa namanya…?"
"Intan.. cantikkan " ia berbalik, pakaian dalam tipis sudah menutupi
memek dan pinggangnya itu sejenak dia melihatku dan kemudian
melepaskan tangan kanannya dari teteknya sepertinya dia nyaman
memperlihatkan teteknya padaku karena dari tadi aku pura-pura cuek dan
pura-pura membasuhi baju kotor padahal adikku sedari tadi gelisah.

Ia kemudian duduk dan membilas selendang batiknya

"Cantik sih namanya.. tapi belum lihat wajahnya secantik emaknya gak ya.."
"Ya pasti.. emaknya aja cantik anaknya ikut donk "katanya sombong,
kusiramkan air ke arahnya segera ia berdiri dan
membalas siramanku

"Maaf salah cetak harusnya, maknya aja jelek apalagi anaknya…" kami
pun akhirnya saling menyiramkan air setelah beberapa saat dia
kewalahan menahan seranganku.

"Ampun ampun…" katanya sambil ketawa cengengesan, akupun menghentikan
seranganku tapi kemudian dia malah berdiri mengambil ember dan
menghampiriku menyiramku sehingga seluruh bajuku basah kuyup, aku
kaget dan reflek mengambil ember ditangannya dia kemudian membalikkan
badan untuk menjauhkan darinya, tanpa sadar tubuhku memeluknya dan
satu tanganku ada pada dadanya yang terbuka. Akhirnya aku bisa meraih
ember itu, ia berusaha melepaskan dari dekapanku tapi sia sia aku
sudah siap, ku ambil air dan meletakkanya diatas kepalanyaa

" Ampun ri,, aku dah mandi.. awas lo ntar tak bilangin kakekmu " aku
tetap saja memegang badannya dan mengancam, akhirnya ia berbalik dan
dengan leluasa aku menyiram ke sekujurtubuhnya kemudian tanganku
mengelus elus tubuhnya

"nih aku mandiin lagi hehehhe,……" sekujur tubuhnya basah termasuk
celana dalamnya sehingga isi didalamnya samar
samar terlihat, kami tertawa geli dicubitnya pinggangku hingga agak
lama "aduh ampun sakit "kataku sambil menarik
tangannya, untuk beberapa saat kami saling memandang sambil tertawa
geli, kami kemudian ke tepi sungai untuk
mengambil handuk, ia kemudian kembali menyeka air ditubuhnya sementara
aku sambil duduk disampingnya sembari
menyeka air di kepalaku.

Wajahnya tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka dan rambutnya
kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya
yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dia merunduk dan
menyeka kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku,
aku kemudian menggunakan handuknya itu untuk mengusap muka (lumayan
aroma tubuhnya masih nempel nih) aku kemudian mengembalikan padanya.
Di ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk tepat di depanku
dan di turunkannya celana dalamnya, karena ikatannya kurang kuat
setelah celana dalamnya berhasil melewati kaki indahnya handuk itupun
ikut terbuka sehingga isi selangkanganya terpampang di depanku.

"Eit…" katanya sambil tangan kanannya menutupi memeknya, aku tersenyum
"Kelihatan nih ye…" kataku sambil memalingkan muka, kakinya menendang
tubuhku, kemudian di usapkannya handuk
itu ke tengah selakangannya yang masih lumayan basah karena mengenakan
celana dalam basah. Aku kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya
dia merasa nyaman saja mengetahui memeknya dilihat aku, diusapkannya
ke arah rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir
coklatnya bawahnya yang masih kencang sambil
tersenyum sendiri

"Awas bisa gila lho tersenyum sendiri…" ia menghentikan usapannya
sambil membetulkan posisinya
"Ia kalo lama-lama deket sama kamu bisa gila …" katanya sambil berdiri
"Eh, bau …" sambil kututup hidungku yang tepat berada didepan memeknya
"Seger lagi coba cium, katanya sambil menarik mukaku dan
menempelkannya pada memeknya yang telah ditutupi salah
satu tangannya. Tanganku mengambil tangan yang menutupinya

"Rambutnya kok gak rapi gak pernah dicukur ya,,,," kubelai rambut
bawahnya kemudian bergerak membuka kedua
bibir bawahnya "Dah punya anak masih kenceng aja nih kulit.." kataku
sambil megelus elus memeknya dengan handuk
sementara dia membalut tubuhnya dengan handuk sehingga kepalaku berada
didalamnya.

Aku kaget dan membuka handuk sambil mencari bibiku takut ketahuan,
kepala bibiku tampak masih ada dibelakang batu
besar disamping sungai itu lagi asik membuang hajat..

"Berani cium gak 5 Ribu deh… " dibukanya kembali handuknya sambil
tersenyum menantang, memeknya tampak begitu
menggairkan

"Gak ah bau tuh.. tambah deh 10 " kataku cengengesan
"Deal…" Katanya sambil duduk jongok Mukaku kumajukan untuk dapat
mencium memeknya, pelan-pelan kubuka bibirnya dan ku elus elus seluruh
memeknya sambil pura-pura menutup hidung seperti mau minum jamu.
Kemudian ku buka mulut dan mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak
melihat kesekeliling kemudian aku mulai menjilat dengan pelan ke paha
kanan kemudian kiri dan akhirnya menjilati memeknya ia tampak
mengerang geli,

"Ih…" katanya pelan, lidahku yang masih menempel kemudian kumasukkan
kedalam memeknya dan menggerak gerakkan memutar sehingga ia tambah
geli. Setelah kurang lebih 5 detik ku tarik mukaku

"Memek lo bau juga ya… mana 10 ribunya..?" ia menutupi kembali
memeknya dengan handuk dan berdiri
"Ntar ya dirumah, mang aku bawa dompet apa? daa…" sumpret belum puas
ngotak-atik mesin bmw (bulu memek wanita) ia sudah pergi, yah akhirnya
aku hanya bisa kembali swalayan sambil melihat ia berlalu,

* * *

bibiku akhirnya menyelesaikan BAB nya aku masih berendam bermain main
di sungai sambil mengembalikan tenaga setelah swalayan. Kami kemudian
asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci sedang aku
membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air sehingga baju kami
basah semua akhirnya baju yang kami selesai semua aku mulai membuka
semua bajuku sehingga hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara
bibiku yang dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya
menyamping, kemudian menaikkan dasternya kemudian celana dalam putih
pelan pelan turun dari pahanya mulus bibiku kemudian dia menghadap
kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat, tidak seperti tadi
dimana kadang aku bisa melihat celana dalamnya.

"Ih celana dalamnya dah pada bolong nih…" kuangkat celana dalamnya,
bibiku segera menyambarnya
"Mana? Masih baru nih.." katanya sambil melemparkannya kepadaku. Dia
kemudian menurunkan dasternya dan mencopot kutang dari tempatnya dan
kemudian menaikkan kembali dasternya, tanpa segaja dia membuka kakinya
sehingga bulu bulu tipis samar-samar terlihat diantara pahanya
terlihat jelas didepanku, dia menunduk mencuci bhnya sehingga teteknya
menyembul diantara belahan dasternya,

"Sini kolormu dicuci sekalian…" aku bengong mendengarnya,
"Copot sekalian gih kolormu.. "
"Wah gak bawa celana dalam bi…." Bibiku tidak menjawab dan memegang
kolorku, akhirnya aku berdiri dan membuka
pelan-pelan kolorku sehingga adikku menampakkan diri.
"Lho dah sunat to kamu ?" dilihatnya burungku yang masih imut-imut
plus rambut yang baru pada keluar, ku pegang
burungku sambil melirik kaki bibi yang sedikit terbuka.
"Dah lama ya kita gak mandi bareng…" ia tersenyum
"Ia dulu waktu masih SD kamu hanya mau mandi bareng aku mang kenapa sih ?"
"Ya milih yang cantik donk, masak sama mak ijah kan dah pada keriput
semua,…" ia kemudian membuka dasternya
sehingga seluruh tubuhnya terbuka dan menggeser duduknya menyamping.
"Sana taruh di pinggir "

aku kemudian meletakkan cucian kemudian kembali ke tempatnya. Teteknya
yang bersih dan putih walaupun tak sebesar punya wulan terlihat masih
sama seperti dulu, tubuhnya yang putih sintal dan rambut yang tergerai
membuat semua orang pasti mengakui dia wanita ayu.

"Ssst lihat memeknya donk bi…" ia melengos dan menutupi pangkal
pahanya dengan tangan, aku menarik tangannya terlihat rambut-rambut
tipis berada di tengah
"Hiii… bulunya habis dicukur ya…" ia tersenyum geli, ia kemudian
menggeser duduknya sehinga tepat didepanku
"Kok tahu…. bagus kan" dibelai nya rambut pubis itu bangga
"Ya tahu lah… dulu kan lebih tebal dari ini….mang napa dicukur"
"Nggak lagi pingin aja … kalo mau dateng bulan aku biasa potong, kalo
gak tak cabut pake lilin, kalo rapi kan sehat…."

Kakinya yang rapat membuat aku hanya kebagian melihat rambutnya saja.

"Lihatin donk…." Kataku sambil mengelus elus pahanya tangannya
menghela tanganku dari pahanya tapi kemudian aku kembali mengelusnya
setelah itu dia melihat tajam kepadaku, pelan-pelan tanganku berhasil
menggeser satu kakinya sehingga memeknya sedikit terlihat.

"Wah masih sama kaya dulu ya.. walaupun dah punya anak masih terlihat
kenceng punyamu" ia tersenyum mendengar
bualanku dan membiarkan aku melihat seluruh isi memeknya, tanganku
mulai membelai memeknya pelan kemudian
mengusap-usapnya
"Jangan nakal ah.. geli.." aku tetap saja mengelus elusnya
"Mandi sana." Tangannya mendorong mukaku sehingga aku terjatuh, dia
kemudian berjalan kearah air yang lebih dalam kemudian berenang renang
kecil
"Ri ambilin sabun donk…" aku duduk mendekatinya dan mengacungkan
sabun, ditariknya tanganku sehingga aku jatuh
dia tersenyum aku kemudian membalas dengan menyiramkan air kemukanya
setelah beberapa saat bercanda di dalam air ia kemudian naik ke sebuah
batu untuk membersihkan diri dengan sabun. Dengan menghadap kepadaku
ia mulai
meletakkan sabunnya dileher jenjangnya, pelan pelan turun ke teteknya,
kemudian ke tangan dan kakinya dan berahir
pada memeknya setelah itu dia kemudian menggosok badannya untuk
memperbanyak busa. Aku keluar dari air dan duduk di sampingnya dia
langsung menggosokkan sabun keseluruh tubuhku dari muka sampai ke
kaki, dengan santai ia
menggosokkan sabun pada penisku.

"Dah gede kamu ri, burungmu dah ada rambutnya.."
"Ya donk masak mau kecil terus…" ia kemudian membalikkan badannya dan
berdiri sambil memintaku menggosok punggung dan bokongnya yang belum
kena sabun, waktu mengosok bokongnya pelan-pelan tanganku ku
senggolkan ke memeknya nampaknya dia cuek saja dengan terus asik
menggosok tubuhnya dengan sabun, aku mulai memberanikan diri
mengelus dari belakang kedua payudaranya. Ia membalikkan badan,
membiarkan aku mengelus elus payudaranya dan
seluruh tubuhnya sementara dia mengelus kakiku dan sesekali mengelus
penisku.

Ia kemudian terduduk, seperti biasanya kalo mandi dia selalu terdiam
beberapa saat membiarkan sabun meresap ditubuhnya. Aku yang masih
berdiri didepannya dengan penis tepat di mukanya, ia kemudian
memain-mainkan penis itu,

"Di bersihin donk ri burungnya, nih masih ada kotorannya" katanya
sambil mengelus penisku mesra aku hanya diam keenakan. Kemudian dia
berbaring di atas batu, aku duduk disamping kakinya sambil mengelus
memeknya dan menyiramkan air sehingga seluruh memeknya kelihatan.

"Dah jangan main itu terus ah geli …" ia tersenyum menutupkan kakinya
aku kemudian menarik kakinya sehingga kini tubuhku berada diantara
kakinya. tanganku mulai menggosok-gosok lagi kali ini jariku mulai
masuk ke memeknya, dia bangun

"Geli ah li.. "tanganku kali ini berhasil diusirnya, tanpa sadar dia
mulai melihat burungku yang mulai berkembang dan
menggantung

"Burungmu dah mulai bisa berdiri ri…" dielusnya burungku pelan mesra,
semakin lama burungku makin besar karena tak tahan akan elusannya.
"Kamu dah pernah ngimpi basah ya.. " aku mengangguk kemudian
" Bi.. kamu gak lagi mens kan?" ia tersenyum kemudian membimbing
tanganku pada dadanya
"Sini bibi ajarin ngelonin cewek…" aku mengikuti saja bimbingan
tangannya mengelus pelan teteknya kemudian melintir
putingnya
"yang mesra donk ri anggep aja aku cewekmu " dia kemudian mencium
pipiku dan mendorong mukaku ke teteknya,
aku ciumi semua bagian teteknya kemudian menghisap pelan putingnya,
ada air keluar dari susunya aku makin keras
menyedotnya sementara bibi mengusap kepalaku sambil merem
menikmatinya. Kemudian aku menjilati perut dan turun ke rambut
memeknya, ke paha kemudian menengelamkan mukaku ke memeknya, namun
tangan bibiku mencegahnya
"Kamu gak papa ri?" katanya pelan "Gak papa bi, sekalian buat pengalaman"

ia kemudian menyiramkan air ke memeknya setelah itu kucium dan
kujilati memeknya beberapa saat, sementara tanganku dibimbing untuk
tetap mengelus dadanya. dia rupanya terangsang dengan jilatanku,
erangan-erangan kecil
dan tekanan tangannya pada rambutku mengisyaratkan dia sudah mulai
terangsang. Merasa cukup ku hentikan jilatanku
kemudian duduk di depannya dia kemudian melek sambil mengelus dan
memutar mutan burungku

"Enak kan…?" ucapnya manja, aku kemudian berdiri, penisku tepat berada
di mukanya, beberapa saat dia diam kemudian ia menutup mata dan
mencium penisku
"Kalo jijik gak usah di emut …" ia melepaskan mukanya dan kembali
mengocok dengan tangannya.
Ia kemudian duduk diatas batu sambil mengangkan meminta aku memasukkan
penis ke memeknya
" Di gesek aja ya, jangan dimasukkan.. punya pamanmu nih.." aku
kemudian menggesekkan penis ke memeknya sementara tanganku menggoda
teteknya.
"Bi sekalian masukkin ya.. biar ngajarinnya komplit.." ku masukkan
tanganku ke memeknya,
"Jangan sama pacarmu saja, kasihan perjakamu…" aku kemudian mencoba
memasukkannya pada memeknya dua kali mencoba ternyata penisku belum
bisa tembus juga, bibiku tersenyum geli
"Tuh kan gak bisa, sini…" ditariknya penisku, di elus kemudian
dimasukkan dalam memeknya, rasanya sempit sekali memeknya, baru
setengah penis masuk bibiku mengeluarkan kembali
"Susah kan… makanya pelan pelan" ia kembali memasukkan, kali ini lebih
dalam, ia kembali menarik tubuhnya sehingga
penisku lepas. Tanganya lepas dari penisku, tanganku yang mau
mengarahkan penisku di tariknya menandakan dia pingin aku memasukkan
tanpa bantuan.

Dua kali mencoba tidak berhasil lagi akhirnya bibiku yang memajukan
memeknya, sekali maju langsung masuk,
"uh…. Enak bi …" ia kemudian menggoyang pinggulnya memberikan tekanan
keluar masuk pada penisku, aku merem melek menahan enak sambil
membantunya mengelus tubuhnya,
"Ayo bagianmu…" ia kemudian pasif membiarkan aku melakukan keinginanku
ku. Aku masukkan sampai semua penisku masuk kemudian bergerak pelan
semakin lama semakin cepat menggoyang maju mundur.
"Bagus ri.. ayo.. ah…. ah… terus sayang…." aku menurutinya beberapa
saat dia meminta aku mengganti posisi kini dia menungging di depanku
dengan sigap kumasukkan penisku berulang ulang
`oh yes … enak bi… enak…." Lima menit kemudian ia memintaku duduk dia
berdiri dihadapanku memeknya kuciumi
sebentar kemudian dia menduduki kakiku,
"ayo aku dah mau nyampe… kamu mau nemenin kan…" dia kemudian
memasukkan memeknya dan bergerak turun naik sementara muka dan
tanganku memegang teteknya
"bii…. Jangan cepet-cepet aku gak kuat nanti…"
"Ayo sayang … bibi juga gak lama lagi .." aku melepas tangan dari
susunya dan berkonsentrasi menahan goyangan maut memek bibiku..
"uh.. ah… " bergantian kami mengucapkannya
"Stop bi… aku mau keluar …" aliran-aliran listrik seakan menjalar
ditubuhku.. bibi melepaskan memeknya, kemudian mengocok penisku dalam
hitungan ke lima air maniku benar benar keluar "crot,,,," mengarah
pada tubuhnya.. Aku lemas sambil menyedot tetek bibiku aku mengatur
nafas setelah berhasil mencapai puncak

"Wiih enak banget bi…. Yes……" kataku pelan, ia tersenyum dan mencium
pipiku sambil mengelus-elus teteknya, setelah beberapa istirahat
bibiku menuangkan air ke mukaku
"udah mandi yuk…" aku menarik tangannya
"Makasih ya bi… maaf kebablasan" ia tersenyum
"Ayo tak bantu nyampe puncak.." kataku sambil mengelus memeknya, aku
kemudian mencium tetek kemudian memeknya, aku kemudian memasukkan
jariku pada memeknya ia merem melek kemudian aku memasukkan
berkali-kali dan menggelitik memeknya, ia benar-benar terangsang.
Tangannya memegang penisku yang sudah tidak kencang lagi kemudian
mengarahkan mukanya pada penisku, semakin lama goyangan tangan ku
makin kencang, sampai akhirnya bibiku mengerang ngerang kemudian
memasukkan penis pada mulutnya.. ia menggelinjang dan ahirnya dia
berteriah "uhhhhhhh,,, ,,," dilepaskannya penisku dan berguling di batu
itu, ku belai rambutnya menemani menuruni puncak kenikmatan.

Kemudian kami berdua masuk kembali ke air membersihkan sisa sabun
" Jangan diulang ya… sekali aja " katanya sambil mencubit paha depanku
"Ya deh bi,, kalo kuat ya.. tapi kalo lihat tubuh bahenol ini kayaknya
aku gak tahan" kucium tengkuk bibi sambil mengelusnya, dia membalas
"Janji ya, jangan goda aku lagi…" aku diam sambil memeluknya..

Category: xxx cerita | Added by: nodunk_admin
Views: 6235 | Downloads: 0 | Comments: 2 | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
chat dunk
200

blog partner

simahir maranaikomering.blogspot.com

tutorial ilmu grafis indonesia

http://downloadgratis34.blogspot.com 'Create
SyariF_oNLy BLOg

feedjit:

Website Counter
Furniture.com Sale